Ada satu hari semasa saya bekerja di Yellow Zone (Zon Separa Kecemasan), boleh saya katakan enam daripada 10 pesakit yang datang adalah dijaga oleh nurse di nursing home atau maid di rumah.
Separuh daripadanya datang tanpa bersama anak masing-masing. Dan menyedihkan mereka anak-anak ini tidak tahu menahu penyakit dan ubat yang diambil oleh ibu bapa mereka.
Ada seorang itu hanya menunjukkan kertas 'discharge summary' sambil berkata, "Nah, doktor. Semua rekod ada dalam kertas ini..."
Dan yang paling saya geram, selepas saya mengambil chief complaint dan history (itu pun daripada maid mereka), salah seorang anak pesakit itu berkata "Doktor nak tahu apa lagi ya? Saya nak pergi kenduri sekejap. Kat dalam UM, belakang ini sahaja..."
sumber sentuhankasihsuci.blogspot.com
“Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapamu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14)
Tidak keterlaluan untuk saya nyatakan, semakin ramai dalam kalangan masyarakat kita ini akibat kesibukan bekerja terpaksa meninggalkan kebajikan ibu dan bapa mereka kepada maid dan juga nursing home. Semua hal tentang penyakit dan jenis ubat tidak diambil tahu langsung meskipun ibu dan ayahnya itu sudah beberapa kali keluar masuk ward.
Tak cukup bukti yang kita sayangi mereka dengan hanya kita memberi duit bulanan dan menziarahi mereka sekali sebulan.
Jika kita menelefon mereka itu, tanyalah juga kesihatannya macam mana, ubat makan ke tak, follow up pergi ke tak. Kalau boleh, ambilah cuti untuk bawa mereka pergi follow up di klinik.
Sepertimana, ibu dan ayah kita ambil cuti semasa nak hantar kita pergi injection vaksin semasa kita kecil, mengapa kita tidak boleh buat perkara yang sama?
Sepertimana mereka memaksa kita menelan syrup paracetamol masa kita demam dulu, mengapa kita tidak memaksa mereka untuk ambil ubatan mereka?
Saya memang directly akan menegur jenis anak-anak yang tidak tahu menahu tentang masalah ibu dan ayahnya. Sangat memalukan! Turun depan hospital dengan kereta BMW, tapi tak tahu apa-apa tentang 'pesakit' yang dibawanya.
Jadi kalau anda seperti golongan di atas, cepat-cepatlah pergi ambil tahu apa masalah kesihatan ibu dan bapa anda. Jangan sampai ibu bapa dah meninggal, apabila saudara mara tanya, tak tahu apa-apa....
Apa yang ada pada Melayu jika bukan kerana Islam yang ada padanya? Tapi Islam itu tidak akan effect apa-apa pun jika Melayu itu tidak ada padanya.
"Allah menciptakan manusia itu dengan pelbagai bangsa dan rupa, dan yang paling mulia disisiNya adalah yang paling bertakwa." Bukanlah yang paling Melayu jati dirinya.
Allah yang menciptakan diri kita jadi Melayu. Bukan kita yang minta, bukan kita yang nak jadi Melayu. Tapi, Allah yang ciptakan. Takkan kita nak tukar diri kita jadi Ruski, Turki, Mat Saleh pula muka dan rupa ni...
Kalaulah kerana menjadi Melayu itu boleh dapat tiket express masuk ke syurga, bagaimana pula orang Ruski? Orang Arab? Orang India? Orang Cina? Dll... Tidak adil-lah kan!
Tapi, Allah itu Maha Adil. Allah tidak sezalim itu.
Allah cipta kita menjadi Melayu dan memberi kita pilihan; nak jadi orang Muslim atau tidak? (Walaupun hakikat sebenar kita kena jadi Muslim).
Nak jadi orang yang ikut perintah Allah or suka buat larangan Allah?
Kalau nak jadi Muslim (walaupun cina, india, melayu, arab, british, french, ruski), kenalah ikut perintah Allah dan ikut apa yang Rasulullah tunjukkan.
......................
Sedih apabila melihat 'pendekar Melayu' yang katanya memperjuangkan Islam, tetapi solatnya tidak pernah dijaga.
Bukankah solat itu amalan pertama yang dihisab nanti?
Bagaimana mungkin Islam dapat diperjuangkan oleh orang yang tidak solat? Bagaimana ia dapat diperjuangkan oleh orang yang suka bergelumang dengan maksiat?
Hurm, Musykil...
Itu baru bab Solat~...
......................
Harus kita FAHAM apa yang kita ingin tegakkan!
......................
*** Terkenang kisah pengalaman ini di Malaysia beberapa tahun lepas.
When you hear about “kahwin dulu, baru dating”, probably in your mind you will be thinking about a guy with a kopiah 24 hours on his head marrying a girl who wear the tudung labuh or even a niqaab, better known as purdah at Malaysia. Your first instinct will also probably be, “I pray, I fast, I wear tudung, but I am not these extreme ‘alim people. I need to get to know my partner for life inside out. So, I need to date him, to know whether we are serasi or not.” I perfectly understand your concern. I understand that you are not ‘crazy’ enough to just jump into a marriage without knowing who your partner really is. So in the end, this kahwin dulu baru dating trend becomes an exclusive thing among people who are active in dakwah and jemaah, while the muslim masses are walking together holding hands or ‘hanging out’ at restaurants at KLCC, Mid Valley, etc. Some of these people are perhaps incurable, but I believe some just don’t get how kahwin dulu baru dating can actually work. I will try my best to show you that kahwin dulu baru dating actually works, and romantic love is hogwash in supposedly spotting the ideal partner for a long-lasting marriage.
Firstly, I have heard about people mocking about those who had successful marriage through matchmake as just being ‘lucky’. To set the record straight, according to National Geographic, the divorce rate of the Western world which embraces total romantic love is around 50 to 60% – a healthy percentage indeed! So, even if you start your marriage with romantic love, the probability for it to last untill death-do-you-apart is less than half. I would like to call upon those ardent defender of romantic love to pause for awhile and enjoy this statistics before proceeding to conjure some pseudo theories about the advantages of having romantic love – you can’t fool the figures. I would say that the western society has 1001 flaws in keeping a safe household and those ‘other factors’ surely contribute to the statistics, but the fact still remain that romantic love fails to spot these people’s partner for life. According to a study done by Utusan Malaysia, our country also has a divorce rate of 54% and our society is practically westernised with majority embracing romantic love – although maybe not the type that ends up on the bed. So it’s the same old story, statistics wise.
Some people say we need to know whether we have ‘chemistry’ through countless dates, hang outs, and spending a lot of time together. Going through a person’s ‘CV’, peer opinion or recommendation, observing her/him in public, and a brief get-to-know session are just not enough. We know that during this courting period, everyone pijak semut pon tak mati, and you will always forgive your partner’s shortcoming no matter how big they are, simply because you are madly in love. How many times have we heard about glitch-free Pakwe 1.0 who eventually turned into Husband 1.0 with lots of viruses and trojan horses? Also note that I am not saying go into a marriage with someone you know you don’t like, but I am saying you don’t need these romantic craps to know a person through and through. The fact is you won’t really know a person unless you live, eat, and sleep with him or her.
I wonder how Amazon.com can make big bucks, if everyone really insist in browsing through a book before buying it. Worst still, this book has a lot of pages written in magic invisible ink that will only show up after you buy it! So you never really know what you are buying. What if good reviews, high-praise critics, and best sellers are not enough for one to make a decision to buy a book? I admit that drawing an analogy between life partner with a book just doesn’t make sense at all. Let’s get scientific. So what really is this thing called love? Anthropologist Helen Fisher, a professor at Rutgers University, has conducted an extensive research on the biochemical pathways of love in all its manifestations: lust, romance, attachment, the way they start and wane, etc. Here is part of what her research is about:-
“After doing MRI on the brain of two lovers – they had been ‘madly in love’ for seven months during that time – she found out that parts of brain linked up to reward and pleasure – the ventral tegnmental area and the caudate nucleus- lit up. What excited Fisher most was not so much finding a location, an address, for love as tracing its specific chemical pathways. Love lights up the caudate nucleus because it is home to a dense spread of receptors for a neurotransmitter called dopamine, which Fisher came to think of as part of our own endogenous love potion. In the right proportions, dopamine creates intense energy, exhilaration, focused attention, and motivation to win rewards. It is why, when you are newly in love, you can stay up all night, watch the sun rise, run a race, ski fast down a slope ordinarily too steep for your skill. Love makes you bold, makes you bright, makes you run real risks, which you sometimes survive, and sometimes you don’t.” [The Chemistry of Love, National Geographic]
Sounds familiar? Mind you that mentally-ill people also shows high amount of dopamine in their brain, and scientists cannot tell apart one who is mentally-ill and one who is ‘madly in love’ by just MRIing their brains. Cool, right? The meaning of ‘madly in love’ is more real than what we think of, as the brain chemistry of infatuation is indeed akin to mental illness. Tak heran la, pijak semut pon tak mati, lautan api pon akan ku redah, dan gunung tinggi mana pon akan ku daki. Do you think an orang gila can make a sound judgement? The fact is, when you are in deep romantic obsession, you just want to win rewards from your partner due to the excessive dopamines, not objectively finding faults in him or her as you claim. Of course nobody is perfect, there is no point in finding every faults in your partner, and supposedly marriage is about reconciling differences and accepting the fact that your partner is another human being, inescapable from making mistakes. What I am stressing here is that dating and hanging out are for mere pleasures, not finding the right partner. How can something that is similar to mental-illness becomes a reliable way to make your decision of a lifetime? So am I still not convincing? Let’s hear further what Dr. Helen Fischer has to say about the chemistry of love:-
“Most scientist who studied love, divide it into three segments: lust, romantic obsession, and attachment. The first stage of it which is lust which is actually the sex drive. One of the things that men like about women is their waist to hip ratio, which according to scientists, the desirable waist to hip ratio is point seven. woman are attracted to man with broad shoulders and rugged features, all showing a great deal of testosterone. The second stage of love is romantic passion, and the same chemcals are involved when a person is in love is when they are high on Amphetamine [dopamine stimulus] , and the scientists are speculating that it ends after about four years, and that’s because that is the amount of time that it takes for a human baby to become ‘viable’. And two things happen, either the couple separate or they stay together in long term relationship. That third stage is called attachment and there is a different chemical in brain that is involved in a long-term relationship, which is called oxytocin, and that causes one to feel very calm and soothe. Emily and Brian of Ohio had been married for 60 years and have twenty children. They were to me sort of perfect example of this long-term relationship attachment.” [The Chemistry of Love, National Geographic]
So, according to scientists, this romantic passion can only last at maximum for four years, but they don’t quite know why yet – biology is always vague. Some say that the human body just can’t stand the state of high in dopamine for so long because it deteriorates the body, while some gave the theory that four years is the maximum time span for a couple to have their first baby, so they need to get ’serious’. Whatever it is, no wonder a lot of people complain that their once glitch-free Pakwe 1.0 turned into Husband 1.0 with lots of viruses and trojan horses. Another thing to point out is that couples who are in long-term relationship show high amount of oxytocin in their brains, which is a totally different chemical from dopamine. Oxytocin is also present when you have good relationships with your parents, brothers, sisters, and friends. So what makes a relationship last long is this feeling of attachment to your partner like you have for your parents, friends, and family, not the romantic passion during courtship. It is interesting to note that oxytocin causes one to feel very calm and soothe, while dopamine creates intense energy, exhilaration, focused attention, and motivation to win rewards. There is no similarity at all between these two chemicals; in fact, their purposes are actually the opposite to each other. So only a fool would think that romantic passion is the mechanism that should be used to find a suitable partner. It is like trying to use a hammer to cut your finger nail.
“And those who say: “Our Lord! Bestow on us from our wives and our offspring the comfort of our eyes, and make us leaders of those who have Taqwa.” [Qur'an 25:74]
Is qurrota a’yun (comfort of our eyes) mentioned in the Qur’an, the feeling of calm and soothe (triggered by oxytocin) that is presence when a relationship is based on attachment? Finally, let’s listen to what Jody Cobb, the photographer of National Geographic magazine who wrote the article The Chemistry of Love, has to say about her impossible task: Photographing love:-
“I didn’t want to just photograph weddings, that I think is what is expected. I didn’t want to do a valentine, I didn’t want to do a hallmark card. The notion of love because anyone who has ever really been in love knows that, that’s not the reality. So I was very much interested to show real life and cultures all over the world. And women are becoming educated and wanting to make their own choices in mate selection, things are changing really fast. And just like in the West, where we trully believe in love and romance and happily ever after, we still have a 50-60% divorce rate.” [The Chemistry of Love, National Geographic]
It is pretty clear now that dating dulu baru kahwin doesn’t come even close to ensure a happily-ever-after relationship. Ironically, those ‘extreme ‘alim people’ are the ones who understand real love and real life, not those Casanovas. Do note that I am not saying if you kahwin baru baru dating then your marriage will last forever, but if you dating dulu baru kahwin then you are doom to failure. I am simply pointing out that romantic passion has nothing to do about spoting the ‘right person’ in your life. It is also true that incompatibility may happen between two persons, like there is just no chemistry between the two of you. The point is, you don’t need to go on countless hang outs to spot that. You don’t need to overload your neuropathways with excessive dopamine to find the supposedly elusive chemistry. It is common sense: You sit down and talk with a person for 15 minutes and you’ll know whether you can get along with that person or not. I am talking in general, meaning even with a stranger who you want to make him as your friend, not just your life partner. As for the opposite gender, more than that, it is the evil desire from your nafs. Of course, if you are still in doubt, go through the person’s ‘CV’, find peer opinion or recommendation about that person, observe her/him in public, and so on and so forth, as long as it is according to the syariah. Whatever you do, don’t get mentally-ill. In the end, you still have to ride all the gelora after the romantic passion dies out and you dah kahwin – Husband 1.0 and Wife 1.0. Last piece of advice: Ride them with oxytocin, not dopamine, ok? Above all, bring along taqwa, inshaAllah it will be pretty smooth sailing.
“I love you because of your religion. If you let go of your religion, then I have to let go of my love for you” Imam Nawawi.
Glossary:
Scientific terms:
Neurotransmitters - are chemicals that are used to relay, amplify and modulate electrical signals between a neuron (brain/nervous system cells) and another cell.
Dopamine - Dopamine is a neurotrasmitter and it has many functions in the brain. Most importantly, dopamine is central to the reward system. Dopamine is commonly associated with the pleasure system of the brain, providing feelings of enjoyment and reinforcement to motivate a person proactively to perform certain activities. Dopamine is released by naturally rewarding experiences such as food and sex. Disruption to the dopamine system has also been strongly linked to psychosis and schizoprenia, with abnormally high dopamine action apparently leading to these conditions. Now you can see the link between sex/romantic passion and psychosis.
Oxytocin - Oxytocin is a mamalian hormone that also acts as a neurotransmitter in the brain. In the brain, oxytocin is involved in social recognition and bonding, and might be involved in the formation of trust between people. Oxytocin is also an important hormone for women for various reasons, but in this article I am focusing on the function of oxytocin in the brain.
MRI - MRI stands for Magnetic resonance imaging, which is a non-invasive method used to render images of the inside of an object. In this particular case, it is used to render images inside of the brain.
Malay terms:
kahwin dulu baru dating – A loose translation would be: Marriage first, only then comes dating.
dating dulu baru kawhin – A loose translation would be: Dating first, only then comes marriage
tudung - hijab
serasi - compatible
pijak semut pon tak mati – Literally it means: Even if you step on an ant, the ant won’t die. What it actually means is someone who control his behavior to give a false, good impression during dating.
pakwe - boyfriend
Tak heran la, pijak semut pon tak mati, lautan api pon akan ku redah, dan gunung tingga mana pon akan ku daki – Literally it means: No wonder he steps on an ant, the ant won’t die, and he will say, “I will cross a fiery ocean for your sake, I will climb the tallest mountain for your sake.” I guess you get the meaning already
References:
1. Slater, Lauren. The Chemistry of Love. National Geographic Magazine, February 2006
2. Fisher, Helen. Why We Love: The Nature and Chemistry of Romantic Love. Henry Holt and Company, 2004
Tahun demi tahun berlalu. Esok, andai kita masih hidup, kita akan masuk lagi ke tahun baru hijrah. Tahun yang akan memberi harapan untuk mendapat yang lebih baik dan menjadi lebih baik dalam setiap apa perkara dan urusan pun berbanding tahun-tahun yang lepas.
Setiap orang pasti ada azamnya pada tahun baru ini. Jika misi-misi dahulu masih tak tercapai, kita pasti akan diusahakan untuk memenuhinya pada tahun yang baru ini. Dan usaha itu dilakukan dengan melakukan pelbagai perubahan untuk menjadikan misinya dapat dijayakan.
Dan hampir setiap tahun kita lontarkan slogan KEAZAMAN untuk BERUBAH kepada yang lebih baik dan BERUBAH pelbagai cara, medium, pendekatan, strategi demi mencapai apa yang kita cita-citakan.
Tapi berapa banyakkah peratusnya yang sudah tercapai? Adakah lebih daripada 50%? Sekurang-kurangnya 25%...
Apakah penghalangnya jika masih jauh tak bergerak?
Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud:
“Orang yang berhijrah itu ialah mereka yang berhijrah meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (Riwayat Muslim).
Allah telah menceritakan sunnahNya ini di dalam kitab pedoman kita di jalan ini:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum itu sehingga mereka mengubah apa yang ada di dalam diri mereka. (13:11)
Apa yang ada di dalam diri?
Ianya adalah hati, perasaan, sikap, pandangan, tasawwur, diri atau katakanlah apa sahaja. Yang penting ianya bukan tangan, kaki, mulut, hidung, mata atau apa sahaja anggota zahir. Anggota zahir hanya mengikut kehendak hati dan perasaan. Oleh itu bila seseorang manusia telah berjaya mengubah hati manusia, maka ia telah berjaya mengubah manusia itu.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad manusia itu ada seketul darah. Apabila ia baik , maka akan baiklah seluruh jasad. Apabila ianya rosak, maka akan rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah.. ia adalah hati.
Usaha awal ar-Rasul saw telah membuktikan hal ini. Fokus Rasul saw bukan pada meruntuhkan berhala batu dan kayu yang disembah oleh orang Quraisy. Berhala-berhala itu adalah dibina oleh tangan-tangan setelah di’suruh’ oleh hati-hati yang sesat dan tidak mengenali tuhan yang benar. Dan tangan-tangan itu tidak bersalah kerana ia menurut perintah ‘tuannya’.
Oleh itu, jika berhala yang diruntuhkan, manusia-manusia berhati ‘syirik’ itu akan membina berhala-berhala lain samada kayu, batu, besi, wanita, pangkat, duit dan lain-lain.
Titik tolak awal kita adalah dari dalam. Luaran hanya pengikut, patuh dan ‘islam’ dengan kehendak dalaman.
Oleh itu mereka yang tidak memahami ‘kaedah’ ini akan terumbang ambing dan terkagum dengan perubahan luaran yang berlaku. Tetapi tiba waktunya akan ter’kejut beruk’ dengan suatu yang tidak disangka-sangka sebaliknya berlaku.
Allah telah menceritakan sunnahNya ini di dalam kitab pedoman kita di jalan ini:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum itu sehingga mereka mengubah apa yang ada di dalam diri mereka. (13:11)
Apa yang ada di dalam diri?
Ianya adalah hati, perasaan, sikap, pandangan, tasawwur, diri atau katakanlah apa sahaja. Yang penting ianya bukan tangan, kaki, mulut, hidung, mata atau apa sahaja anggota zahir. Anggota zahir hanya mengikut kehendak hati dan perasaan. Oleh itu bila seseorang manusia telah berjaya mengubah hati manusia, maka ia telah berjaya mengubah manusia itu.
Ar-Rasul saw juga telah memaksa kita untuk memahami hal ini.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad manusia itu ada seketul darah. Apabila ia baik , maka akan baiklah seluruh jasad. Apabila ianya rosak, maka akan rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah.. ia adalah hati.
Usaha awal ar-Rasul saw telah membuktikan hal ini. Fokus Rasul saw bukan pada meruntuhkan berhala batu dan kayu yang disembah oleh orang Quraisy. Berhala-berhala itu adalah dibina oleh tangan-tangan setelah di’suruh’ oleh hati-hati yang sesat dan tidak mengenali tuhan yang benar. Dan tangan-tangan itu tidak bersalah kerana ia menurut perintah ‘tuannya’.
Oleh itu, jika berhala yang diruntuhkan, manusia-manusia berhati ‘syirik’ itu akan membina berhala-berhala lain samada kayu, batu, besi, wanita, pangkat, duit dan lain-lain.
___ [1] Sahih al-Bukhari, Jil. 1, hlm. 101, Bab Fadhl man istabra’ lidinihi.
Antara kita ini sebenarnya telah terikat dengan satu ikatan yang terbesar yang tak mampu diputuskan oleh sesiapa pun melainkan Allah swt. Ikatan ini adalah ikatan yang lebih besar daripada ikatan-ikatan lain, samada ikatan kekeluargaan, persaudaraan, perkauman, perkumpulan mahupun kebangsaan.
Ia adalah ikatan Akidah Islamiyyah, yang kita semua mengakui tiada tuhan yang layak disembah melainkan Allah swt dan Nabi Muhammad itu adalah Rasulullah saw yang mesti diteladani.
Tidak dapat tidak, Ukhwah Islamiyah kita ini mesti dipelihara dengan sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya. Di sekeliling kita, terdapat pelbagai cabaran yang sudah tentunya boleh sahaja mengugat keimanan dan kehidupan kita sebagai seorang Muslim.
Terdapat sekumpulan manusia kini sedang giat menarik orang Islam terutamanya antara kita yang begitu kurang pegangan dan kekuatan agamanya untuk bersama-sama dengan cara hidup mereka dan seterusnya masuk ke dalam agama mereka.
Mereka ini begitu licik dan kreatif dengan mengadakan pelbagai aktiviti yang sudah tentunya akan dapat menawan hati-hati yang lemah dan ragu-ragu. Tema yang selalu dipakainya begitu universal dan cuba disesuaikan dengan kemanusiaan supaya tidak nampak mesej sebenar yang sedang dibawa.
Perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit. Bermula dengan satu dua aktiviti, kemudian diajak lagi. "Ala.. menyanyi je, menari sket-sket je.. apa salahnya."
Bujukan dan rayuan-rayuan akan diguna pakai dengan habis-habissan untuk menarik kita kepada aktiviti al-hawa mereka. Bagi yang tidak kuat, akan mudah tertipu dengan slogan-slogan yang dimainkan mereka. Nauzubillahiminzalik.
Jadi, saya nak nasihatkan agar kita sentiasa berhati-hati dengan tipu daya ini. Selalulah untuk cuba meningkatkan diri kita dengan amal dan kefahaman Islam. Kita boleh hadiri pelbagai kelas pengajian, halaqah, usrah dan pelbagai lagi aktiviti yang dalam komuniti Muslim kita sudah sediakan.
Dan juga sentiasalah kita menguatkan ikatan ukhuwwah Islamiyah itu dengan cuba mengenali satu sama lain dalam suasana yang penuh dengan saling menghormati dan berkasih sayang.
Moga-moga dengan demikian kita akan terus menjadi satu kaum Muslimin yang kuat bersatu padu di bumi Russia ini dan mencapai kejayaan di dunia dan di akhirat, yakni Mardhatillah!
Seperkara penting juga adalah soal perpaduan yang baik antara mereka. Perpaduan itu tidaklah bermaksud bercampur habisan dengan mereka. Kita ada Deenul Islam kita (cara hidup Islam) dan mereka pun ada cara hidup mereka. Jadi, tak perlulah kita ambil cara mereka yang jelas berbeda sangat!
Namun, kena ingat yang mereka ini sebenarnya adalah target dakwah kita juga walaupun ia tidaklah menjadi priority. Jika kita dapat mengamalkan Islam dalam diri kita dengan baik dan sepenuhnya secara syumul serta menjaga hubungan baik dengan mereka, mana tahu satu masa nanti mereka akan tertarik dengan Islam disebabkan oleh keperibadian kita itu. Insya Allah...
Hidayah itu Allah yang punya. Dia layak memberi kepada hamba ciptaan yang dikhendakiNya dan dia juga layak menarik balik daripada hamba-hambaNya.
Pelik apabila saya ada mendengar tentang seorang kawan yang beragama christian dengan tanpa rasa apa-apa mudah menolak ajakan untuk pergi makan-makan atau bermain games/futsal atau keluar berjalan-jalan kerana dia ada Bible Study.
Tetapi, apabila diajak pula seorang muslim untuk solat berjemaah bersama-sama, banyak alasan yang tak lojik pun dapat didengari dan ketika itulah perkara-perkara lain yang tidak ada priority nak dibuat.
Itu belum lagi diajak mendengar tazkirah atau duduk dalam halaqah untuk Qurani Study.
Priority apakah kita telah letak untuk kita sebagai seorang Muslim?
Dalam setiap pekerjaan pada dasarnya ada dua faktor: yang pertama adalah tujuan pekerjaan itu sendiri dan yang kedua ialah bentuk khusus dari pekerjaan tersebut yang dipilih untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagai contoh, marilah kita ambil pekerjaan makan. Tujuan anda memakan makanan adalah untuk menjaga agar anda tetap hidup dan mempunyai tenaga untuk bekerja. Cara yang anda pilih untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengambil sepotong daging, memasukannya ke dalam mulut, mengunyah-ngunyahnya dan menelannya masuk ke dalam kerongkong anda. Cara ini anda lakukan kerana ia adalah cara yang paling efektif dan tepat untuk mencapai tujuan anda.
Tetapi anda tahu bahawa hal yang paling penting adalah tujuan untuk apa makanan itu dimakan, dan bukannya bentuk serta kaedah pekerjaan itu. Apa yang anda akan katakan apabila ada orang yang membuat daging tiruan daripada serbuk gergaji atau abu atau tanah liat, lalu memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya dan menelannya? Anda tentu akan mengatakan bahawa orang itu sudah gila. Mengapa?
Kerana orang seperti ini tidak mengerti tujuan yang sebenarnya dari makan, dan mengira yang dinamakan makan hanyalah semata-mata mengambil sesuatu dengan tangan, memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya dan menelannya.
Jadi sama halnya, anda juga akan mengatakan pelik bila ada orang yang setelah menelan makanannya lalu memuntahkannya kembali dengan mengorek-ngorekkan jarinya ke dalam mulutnya, kemudian mengeluh bahawa ia tidak memperolehi manfaat daripada makanannya itu, tetapi sebaliknya pula setiap hari dia jadi semakin lama semakin kurus kering seperti orang kurang makan. Orang seperti ini menyalahkan makanan pula atas kesalahan yang diperbuatnya sendiri. Ia mengira bahawa tenaga hidup dapat diperolehi dengan hanya memenuhi persyaratan-persyaratan yang tercakup dalam perbuatan makan. Kerananya, ia berfikir, "mengapa saya harus menyimpan makanan dalam perut saya? Mengapa saya tidak memuntahkannya sahaja agar perut saya menjadi ringan? Saya kan sudah memenuhi persyaratan-persyaratan makan".
Begitulah fikirnya. Tentu sahaja ia harus menderita sendiri akibat cara berfikir dan tindakannya yang tidak masuk akal itu. Dia mesti mengetahui bahawa sebelum makanan yang dimakannya tercerna dalam perut dan sarinya terserap dalam darahnya dan disampaikan ke seluruh bahagian tubuh, maka tenaga hidup tidak akan boleh diperolehi. Walaupun pekerjaan-pekerjaan luar juga perlu, kerana tanpa tindakan-tindakan tersebut makanan tidak akan boleh sampai ke dalam perut, namun tujuan makanan tidak dapat dicapai dengan hanya semata-mata melakukan pekerjaan-pekerjaan luar sahaja.
Pekerjaan-pekerjaan luar itu tidak boleh menimbulkan keajaiban bahawa hanya dengan melaksanakannya sahaja maka darah akan langsung boleh mengalir cepat dalam pembuluh-pembuluhnya. Darah hanya dapat dihasilkan sesuai dengan hukum yang telah digariskan Allah. Apabila anda melanggar hokum tersebut, anda hanya akan membunuh diri anda sahaja.
AKIBAT MENGANGGAP FAKTOR-FAKTOR LUARAN SEBAGAI HAKIKAT AMAL
Apabila anda renungkan contoh yang disebutkan di atas tadi, anda akan mengerti mengapa "ibadat" yang anda lakukan sekarang ini tidak mendatangkan hasil apa-apa. Kesalahan yang terbesar dalam mengerjakan "ibadat" adalah menganggap tindakan solat dan puasa dalam bentuk luarnya sebagai "ibadat" yang sebenarnya, hingga anda terkena ilusi bahawa siapa sahaja yang memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut bererti telah melaksanakan ibadat kepada Allah.
Anda sama seperti orang yang mengira bahawa pelaksanaan keempat perbuatan, yakni membuat makanan, memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya dan menelannya adalah yang dinamakan proses makan, dan siapa sahaja yang mengerjakan keempat-empat perbuatan ini bererti telah memakan makanan dan kerananya dia berhak memperolehi manfaat dari makan, tidak peduli apakah yang dimasaknya itu beras atau tanah, atau apakah ia memuntahkan kembali makanannya itu atau tidak.
Kalau anda mempunyai fikiran sedikit sahaja maka katakanlah bagaimana boleh terjadi bahawa seseorang yang berpuasa, yang sedang melaksanakan "ibadat" kepada Allah dari pagi sampai petang, di tengah-tengah 'ibadatnya itu ia berbuat dusta dan membicarakan atau mengumpat kejelekan orang lain?
Mengapa ia bertengkar kerana soal kecil sahaja dan mengeluarkan kata-kata yang kotor dari mulutnya?
Mengapa masih berkepit tangan lelaki dan perempuannya yang masih belum sah ikatannya itu?
Mengapa masih menonton video movie yang dalamnya terkandung aksi-aksi yang tidak patut ditonton oleh seorang muslim?
Malah mengapa masih tidak cukup solat lima waktunya?
Dan setelah melakukan semua itu, ia masih mengira bahawa ia telah melakukan "ibadat" kepada Allah?
Tidakkah ini sama dengan orang yang memakan tanah liat atau abu dan mengira bahawa hanya dengan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan luar sahaja bererti ia sudah makan?
BEBAS KEMBALI DARI IKATAN-IKATAN SETELAH RAMADHAN
Selanjutnya katakanla, bagaimana boleh terjadi bahawa setelah anda dibebaskan dari "ibadat" kepada Allah selama bulan Ramadhan, semua pengaruh dari latihan kesalehan ini hilang begitu sahaja apabila bulan Ramadhan selesai?
Setelah Hari raya Aidil Fitri tiba, anda melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang dilakukan oleh orang-orang agama lain dalam perayaan-perayaan mereka.
Majlis tari menari yang menghiasi hari raya? Pergaulan tak terbatas lelaki dan perempuan? Pembaziran makanan? Kelalaian menunaikan solat waktu kerana terlalu sibuk memeriahkan hari raya… Astagfirullah…
Setelah bulan Ramadhan berakhir, berapa banyak di antara kita yang tetap memelihra kesan kesalehan dan kebajikan bulan puasa pada hari kedua ‘Aidil Fitri? Hukum Tuhan yang mana yang tidak dilanggar? Berapa bahagian dari waktu anda yang anda pergunakan untuk kebaikan, dan sejauh mana egoisme anda berkurangan?
AKIBAT KELIRU TENTANG "IBADAT"
Fikir dan renungkanlah kenapa semua itu boleh terjadi? Saya yakinkan anda bahawa satu-satunya sebab dari semua itu adalah kerana makna ibadat telah berubah dalam fikiran anda.
Kerana anda mengira bahawa ibadat itu hanya menahan makan dan minum di siang hari selama bulan puasa, maka anda mentaati peraturan puasa itu dengan sangat cermat. Anda takut kepada Allah sehingga anda menghindari setiap hal yang boleh membatalkan puasa, bahkan anda berani mempertaruhkan nyawa demi. puasa anda.
Tetapi anda tidak tahu bahawa dengan hanya semata-mata menahan lapar dan minum bukanlah "ibadat" yang sebenarnya, melainkan hanya salah satu bentuk daripadanya sahaja. Dan tujuan ditetapkannya bentuk ibadat seperti ini adalah untuk menumbuhkan dalam diri anda rasa takut dan cinta kepada Allah, dan dengan itu mengembangkan dalam diri anda kekuatan yang besar, sehingga dengan menekan hawa nafsu anda, anda akan mampu menghindari hal-hal yang nampaknya menguntungkan tetapi yang sebenarnya tidak diredhai Allah.
Di lain pihak, dengan menguasai diri anda, anda akan mampu membuatkan diri anda menyenangi hal-hal yang mungkin membawa risiko dan kerugian tetapi jelas mendatangkan keredhaan Allah. Kekuatan ini hanya boleh dikembangkan kalau anda mengerti tujuan puasa, dan menggunakan latihan yang anda jalani dalam berpuasa itu untuk mengendalikan dorongan-dorongan jasadi kerana takut dan cinta kepada Allah, dan membuatkan dorongan-dorongan tersebut bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah.
Tetapi dalam perlaksanaannya, begitu bulan Ramadhan berlalu, anda buang semua hasil-hasil latihan anda itu, seperti orang yang setelah makan lalu memuntahkan makanannya dengan mengorek-ngorekkan jarinya ke dalam mulutnya.
Bahkan dalam kenyataannya, sebahagian di antara anda memuntahkan kebajikan-kebajikan yang anda perolehi pada siang hari sebaik sahaja malam tiba. Nah, anda fikirkanlah sendiri, apakah puasa dan bulan Ramadhan itu boleh mendatangkan keajaiban, sehingga hanya dengan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan luaran sahaja, anda dapat memperolehi kekuatan yang hanya boleh diperolehi dengan jalan berpuasa menurut cara yang ditetapkan?
Sebagaimana halnya enersia fizik hanya boleh diperolehi dari makanan setelah makanan tercerna dalam perut dan dibawa oleh darah kepada seluruh urat-urat tubuh; maka demikian pula kekuatan rohani hanya boleh diperolehi dari puasa bila orang yang berpuasa itu mengerti tujuan puasa, dan meresapkan pengertian itu ke dalam hati dan fikirannya, dan membiarkannya menguasai fikiran, motif, niat, dan perbuatannya.
PUASA: SARANAN UNTUK MENUJU TAQWA
Kerana itulah, setelah memerintahkan puasa, Allah mengatakan:
...Ia'allakum tattaqun. "...agar kamu bertaqwa". (al-Baqarah, 2:183)
Ertinya, puasa diwajibkan kepada anda, dengan harapan mudah-mudahan anda boleh menjadi orang yang saleh dan bertaqwa. Di sini tidak dikatakan bahawa dengan berpuasa anda pasti menjadi orang yang saleh dan bertaqwa, kerana hasil puasa itu sendiri ter-gantung pada pengertian dan niat orang yang bersangkutan.
Barangsiapa yang memahami tujuan itu, dan dengan pemahaman tersebut cuba mencapai tujuan puasa, akan menjadi orang yang saleh dan taqwa. Tetapi, orang yang tidak memahami tujuan puasa itu dan tidak cuba untuk mencapainya, jangan diharap akan boleh memperolehi sesuatu dari puasanya.
**Akhir kata, Selamat Berpuasa 6 di bulan Syawal !
Kita bolehlah mengatakan bahawa objektif atau sasaran yang perlu dicapai oleh Muslim di bulan Ramadhan ini kepada dua yang terutama. Iaitu taqwa dan keampunan. Perihal objektif taqwa telah disebut dengan jelas di dalam ayat 183 dari surah al-Baqarah. Manakala objektif 'mendapatkan keampunan' ternyata dari hadith sohih tentang Sayyidatina Aisyah r..a yang bertanya kepada nabi doa yang perlu dibaca tatkala sedar sedang mendapat lailatul qadar. Maka doa ringkas yang diajar oleh Nabi SAW adalah doa meminta keampunan Allah SWT.
Bagaimanapun, kemampuan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala ramadhan kerap kali tergugat akibat kekurangan ilmu dan kekurang perihatinan umat Islam kini. Antara yang saya maksudkan adalah:
1.Makan dan minum dengan bebas setelah batal puasa dengan sengaja (bukan kerana uzur yang diterima Islam)
Perlu diketahui bahawa sesiapa yang batal puasanya dengan sengaja tanpa uzur seperti mengeluarkan mani secara sengaja, merokok, makan dan minum. Ia dilarang untuk makan dan minum lagi atau melakukan apa jua perkara yang membatalkan puasa yang lain sepanjang hari itu. (Fiqh as-Siyam, Al-Qaradawi, hlm 112).
Ia dikira denda yang pertama baginya selain kewajiban menggantikannya kemudiannya. Keadaan ini disebut di dalam sebuah hadith, Ertinya : "sesungguhnya sesiapa yang telah makan (batal puasa) hendaklah ia berpuasa baki waktu harinya itu" (Riwayat al-Bukhari)
2.Makan sahur di waktu tengah malam kerana malas bangun di akhir malam
Jelasnya, individu yang melakukan amalan ini terhalang dari mendapat keberkatan dan kelebihan yang ditawarkan oleh Nabi SAW malah bercanggah dengan sunnah baginda. "Sahur" itu sendiri dari sudut bahasanya adalah waktu terakhir di hujung malam. Para Ulama pula menyebut waktunya adalah 1/6 terakhir malam. (Awnul Ma'bud, 6/469). Imam Ibn Hajar menegaskan melewatkan sahur adalah lebih mampu mencapai objektif yang diletakkan oleh Nabi SAW. (Fath al-Bari, 4/138)
3.Bersahur dengan hanya makan & minum sahaja tanpa ibadah lain
Ini satu lagi kesilapan umat Islam kini, waktu tersebut pada hakikatnya adalah antara waktu terbaik untuk beristigfar dan menunaikan solat malam. Firman Allah ketika memuji orang mukmin ertinya : " dan ketika waktu-waktu bersahur itu mereka meminta ampun dan beristighfar" (Az-Zariyyat : 18)
Ertinya : "Ditanya kepada Nabi (oleh seorang sahabat) : Wahai Rasulullah :" Waktu bilakah doa paling didengari (oleh Allah s.w.t) ; jawab Nabi : Pada hujung malam (waktu sahur) dan selepas solat fardhu" ( Riwayat At-Tirmidzi, no 3494 , Tirmidzi & Al-Qaradhawi : Hadis Hasan; Lihat Al-Muntaqa , 1/477)
4.Menunaikan solat witir sejurus selepas terawih
Menurut dalil-dalil yang sohih, waktu yang terbaik bagi solat witir adalah penutup segala solat sunat di sesuatu hari itu berdasarkan hadith ertinya "Jadikanlah solat sunat witir sebagai solat kamu yang terakhir dalam satu malam". (Fath al-Bari, no 936). Sememangnya tidak salah untuk melakukan witir selepas terawih, cuma sekiranya seseorang itu yakin akan kemampuannya untuk bangun bersahur dan boleh melakukan solat sunat selepas itu, maka adalah lebih elok ia melewatkan witirnya di akhir malam.
5.Tidak menunaikan solat ketika berpuasa
Ia adalah satu kesilapan yang maha besar.. Memang benar, solat bukanlah syarat sah puasa. Tetapi ia adalah rukun Islam yang menjadi tonggak kepada keislaman sesorang. Justeru, 'ponteng' solat dengan sengaja akan menyebabkan pahala puasa seseorang itu menjadi 'kurus kering' pastinya.
Ini jelas suatu kelompongan yang ada dalam masyarakat tatakala berpuasa. Ramai yang lupa dan tidak mengetahui kelebihan besar semua solat fardhu berbanding solat sunat, teruatamnya solat subuh berjemaah yang disebutkan oleh Nabi SAW bagi orang yang mendirikannya secara berjemaah, maka beroleh pahala menghidupkan seluruh malam.
7.Menunaikan solat terawih di masjid dengan niat inginkan meriah
Malanglah mereka kerana setiap amalan di kira dengan niat, jika niat utama seseorang itu ( samada lelaki atau wanita) hadir ke masjid adalah untuk meriah dan bukannya atas dasar keimanan dan mengharap ganjaran redha Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi SAW di dalam hadith riwayat al-Bukhari. Maka, "Sesungguhnya sesuatu amalan itu dikira dengan niat". (Riwayat al-Bukhari)
8.Bermalasan dan tidak produktif dalam kerja-kerja di siang hari dengan alasan berpuasa
Sedangkan, kerja yang kita lakukan di pejabat dengan niat ibadat pastinyamenambahkan lagi pahala. Justeru, umat Islam sewajarnya memperaktifkanprodu ktiviti mereka dan bukan mengurangkannya di Ramadhan ini.
9.Memperbanyakkan tidur di siang hari dengan alasan ia adalah ibadat
Sedangkan Imam As-Sayuti menegaskan bahawa hadith yang menyebut berkenaan tidur orang berpuasa itu ibadat adalah amat lemah.. (al-Jami' as-Soghir ; Faidhul Qadir, Al-Munawi, 6/291)
10.Menganggap waktu imsak sebagai 'lampu merah' bagi sahur
Ini adalah kerana waktu imsak sebenarnya tidak lain hanyalah 'lampu amaran oren' yang di cadangkan oleh beberapa ulama demi mengingatkan bahawa waktu sahur sudah hampir tamat. Ia bukanlah waktu tamat untuk makan sahur, tetapi waktu amaran sahaja. Lalu, janganlah ada yang memberi alasan lewat bangun dan sudah masuk imsak lalu tidak dapat berpuasa pada hari itu. Waktu yang disepakti ulama merupakan waktu penamat sahur adalah sejurus masuk fajar sadiq (subuh). (As-Siyam, Dr Md 'Uqlah, hlm 278)
11. Wanita berterawih beramai-ramai di masjid tanpa menjaga aurat
Ini nyata apabila ramai antara wanita walaupun siap bertelekung ke masjid, malangnya kaki dan aurat mereka kerap terdedah da didedahkan berjalan dan naik tangga masjid di hadapan jemaah lelaki. Tatkala itu, fadhilat mereka solat di rumah adalah lebih tinggi dari mendatangkan fitnah buat lelaki ketika di masjid.
12.Memasuki Ramadhan dalam keadaan harta masih dipenuhi dengan harta haram, samada terlibat dengan pinjaman rumah, kad kredit, insuran, pelaburan dan kereta secara riba
Ini sudah tentu akan memberi kesan yang amat nyata kepada kualiti ibadah di bulan Ramadhan, kerana status orang terlibat dengan riba adalah sama dengan berperang dengan Allah dan RasulNya, tanpa azam dan usaha untuk mengubahnya dengan segera di bulan 'tanpa Syaitan' ini, bakal menyaksikan potensi besar untuk gagal terus untuk kembali ke pangkal jalan di bulan lain.
Nabi Muhammad menceritakan : Ertinya : menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit : Wahai Tuhanku…wahai Tuhanku… sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mahu mengabulkan doanya. ( Riwayat Muslim, no 1015, 2/703 ; hadis sohih)
Justeru, bagaimana Allah mahu memakbulkan doa orang yang berpuasa sedangkan keretanya haram, rumahnya haram, kad kreditnya haram, insurannya haram, simpanan banknya haram, pendapatannya haram?. Benar, kita perlu bersangka baik dengan Allah, tetapi sangka baik tanpa meloloskan diri dari riba yang haram adalah penipuan kata Imam Hasan Al-Basri.
13. Tidak memperbanyakkan doa tatkala berpuasa dan berbuka
Ini satu lagi jenis kerugian yang kerap dilakukan oleh umat Islam. Nabi SAW telah menyebut : Ertinya : "Tiga golongan yang tidak di tolak doa mereka, pemimpin yang adil, individu berpuasa sehingga berbuka dan doa orang yang di zalimi" ( Riwayat At-Tirmizi, 3595, Hasan menurut Tirmizi. Ahmad Syakir : Sohih )
Selain itu, doa menjadi bertambah maqbul tatkala ingin berbuka berdasarkan hadith.
Ertinya : "Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu ketika berbuka (atau hampir berbuka) doa yang tidak akan ditolak" ( Riwayat Ibn Majah, no 1753, Al-Busairi : Sanadnya sohih.
1)Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)
2)Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah aw. Bersabda: “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.
3)Do’a keberkahan di bulan Rejab. Bila memasuki bulan Rejab, Nabi saw. mengucapkan, “Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana.”
“Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rejab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Tidak TAHU pun kesahihannya... Tapi boleh ambil sebagai Akhbar Islami realiti dunia kita hari ini. Wallahualam.
Mungkin ada yang nak tahu betul atau tidak, boleh pergi check ya... =)
Apa yang saya dengar-dengar, di sebuah sekolah menengah harian di kawasan luar bandar di selatan tanah air, 81 daripada 1000++ pelajarnya pernah mengadakan hubungan seks sebanyak 41 kali.
"kalaulah itu yang berlaku di sekolah harian luar bandar, bagaimana pula sekolah-sekolah harian di bandar??? "
Kalaulah betul... Apa kerja kita? Geleng kepala sahaja? Bila kita nak betulkan masyarakat? Bila kita nak start tanam Islam dalam masyarakat?
Masih duk balah Politik siang-malam? Masih dengan hiburan program realiti apa kejadah tah kat TV-TV tu?
Apakah formula untuk TIDAK TIDUR semasa mendengar khutbah?
Kesian saya tengok. Tak kiralah budak sekolah ke, remaja ke, belia ke, pemuda ke, pakcik2 ke semua duk khusyuk 'mengangguk-angguk' semasa khatib bersemangat tengah bersyarah di depan.
Bangunlah wahai umatku! Dah la kuliah Subuh / Maghrib hang tak pernah dengar, Tazkirah pun jarang2, Radio dalam kereta lak dengar yang lagu2 hitzzz je,
Patutlah tak ambil tahu pun apa yang terjadi kat umat islam di sekeliling...
Aduih... Kat mana lagi nak dengar pengisian ruhi? Kat mana lagi nak dengar peringatan2? At least seminggu sekali waktu Jumaat macam ni
Kalau waktu ni pun nak tidur, takde la lagi waktu nak dengar tazkirah, kuliah, ceramah dll. Usrah lagi la jauh...
Tawakkal itu maksudnya kita bergantung semata-mata hanya kepada Allah selepas kita berusaha... walaupun dengan ikatkan tali unta untuk tinggalkan seketika...
Kita, lepas revise sungguh2 beberapa hari, berusaha untuk faham & hafal, kemudian solat hajat, kemudian tanam azam dan tawakkal kepada Allah.
Kemudian kita melangkah ke tempat exam,
ambil variant,
soalan,
dan kemudian jawab orally dengan examiner,
dan habissss...
Semuanya itu mesti bergantung kepada Allah SAHAJA, bukannya dengan TOYOL, tak kiralah toyol dalam poket ke, toyol PDA ke, toyol 'besar' kat sebelah kita ke,
Sebab semuanya itu membuatkan kita dah tak bergantung dengan ALLAH... Tapi, kita bergantung dengan benda lain yang ianya adalah selain daripada ALLAH...
Astargfirullahalaziim.....!
Sepatutnya setiap langkah kita adalah dalam harapan dan tawakkal, dan semuanya mengharapkan THE BEST daripada Allah...
Result apa pun yang kita dapat adalah yang terbaik untuk kita daripada ALLAH.
Untuk membaiki diri kita, Untuk mentarbiyyah diri kita, dan untuk meguji diri kita.
Boleh jadi ia dilihat 'pyat' pada mata kita, dan kita memang merasai ia hadiah daripada hasil usaha kita, tapi ingat ia adalah ujian daripada Allah...
Boleh jadi ia dilihat 'udov' pada mata kita, tapi ia adalah pengajaran untuk kita membaiki diri kita,... juga sebagai ujian daripada Allah...
Allah sebenarnya menilai kita bukan atas natijah apa yang kita dapat, tapi apa yang kita usahakan.
Insya Allah. ALL THE BEST. Semoga exam kali ini akan lebih membuatkan kita semakin dekat dengan Allah.
Sedikit demi sedikit MEREKA menarik KITA ke arah jalan mereka, cara hidup mereka dan sosial, budaya serta pemikiran mereka. Mereka akan berusaha walaupun sampai ke lubang biawak supaya kita akhirnya mengikut kegemaran dan kelaziman mereka.
Hadis Abu Said Al-Khudriy r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: "Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehinggakan mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?" (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ya,anda mampu mengatakan TIDAK! Anda mampu melaungkanTAK NAK! Dan Hati andamampu menolaknya!
Kedengaran bunyi-bunyi teriakan dan sorakan pada pagi hari menceriakan dan memeriahkan gelanggang futsal itu. Anak-anak muda kelihatan penuh bersemangat mengejar dan merebut bola untuk menyumbatnya ke arah gol.
Nampak indahnya lagi apabila masing-masing kemas berseluar panjang dan menutup aurat. Semuanya dilakukan semata-mata kerana mahu memenuhi tuntutan ibadah bersukan. Sebagaimana mereka menjaga aurat sewaktu solat lima waktu mereka, begitulah juga ketika waktu beriadah mereka. Tiada perbezaan pun.
Ketaatan kepada Allah swt dan sayangnya mereka dengan Rasulullah saw membuatkan mereka merasai bahawa mereka adalah hamba kepada Yang Maha Pencipta dan pengikut risalah Nabi Muhammad s.a.w. Dan segala apapun yang diperintah oleh Allah swt diikuti dengan hati yang rela dan ikhlas meskipun ia bertentangan dengan kehendak diri. Kerana apa? Kerana diri tahu pertentangan itu adalah kehendak daripada nafsu diri dan bisikan jahat syaitan.
Sebagai seorang muslim, Riadah mereka, Bermain futsal meraka dan bermain apa pun bagi mereka adalah juga ibadah jika semuat itu diniatkan kerana Allah dan mengikut cara yang disyariatkan Islam. Mereka itu ter-triggered untuk memenuhi sifat tubuh badan yang sihat kerana mereka yakin yang Allah itu akan lebih menyanyangi seseorang yang kuat tubuh badannya.